Rabu, 13 Februari 2013

kolelitiasis


MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN KOLELITIASIS


Disusun oleh :
Adityas Yan Nugroho
Angga Vivi Ardi
Anggraini
Anita Indriani



AKADEMI KEPERAWATAN PRAGOLOPATI PATI
TAHUN AJARAN 2010 / 2011
KATA PENGANTAR

     Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatNya, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan dengan Kolelitiasis ini tepat pada waktu yang ditentukan. Dalam proses penyelesaian makalah ini, dengan tulus penulis mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada : 
1.Bapak Sutarwo selaku Direktur Akper Pragolopati yang sudah mendukung dalam pembuatan makalah ini
2. Ibu Ika Karunianingsih, Skep, , pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan , pengarahan dan petunjuk dalam penyusunan makalah ini.
3. pihak-pihak lain yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini
Semoga Allah SWT membalas jasa serta budi budi baik kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penyelesaian makalah ini. Harapan kami, walaupun kecil semoga makalah ini dapat memberikan sumbangan dan manfaat khususnya bagi perkembangan ilmu keperawatan.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyususnan makalah ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan dari kami, kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini akan penulis terima dengan keiklasan hati.

                                                                                                Pati,  Novermber  2010

                                                                                                            Kelompok,



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Kolelitiasis ( kalkulus / kalkuli, batu empedu )biasanya terbentuk dalam kandung empedudari unsure – unsure pasat yang membentuk cairan empedu; batu empedu memiliki ukuran, bentuk, dan komposisi yang berfariasi. Batu empedu tidak lazim di jumpai pada anak – anak dan dewasa muda tetapi insidensnya semakin sering pada individu dengan usia di atas 40 tahun. Sesudah itu, insidens kolelistiasis semakin meningkat hingga satu tingkat yang diperkirakan bahwa pada usia 75 tahun satu dari tiga orang akan memiliki batu empedu.
                                                                                   ( Brunner & Suddarth : 2001)

B.     Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Sebagai syarat untuk memenuhi tugas dalam perkuliahan
2.      Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang penyakit koleslitiasis
3.      Agar mahasiswa dapat membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit kolelitiasis








BAB II
ISI
A.  DEFINISI

Kolelitiasis / koledokolelitiasi merupakan adanya batu di kandung empedu, atau pada saluran kandung empedu yang pada umumnya komposisi utamanya adalah kolesterol.
                                                                                                                   ( Williams, 2003 )

Kolelitiasis merupakan suatu keadaan dimana terdapat batu empedu di dalam kandung empedu (vesika felea) dari unsure – unsurepadat yang membentuk cairan empedu yang memiliki ukuran bentuk dan komposisi yang bervariasi.
                                                                                                (Bbrunner & Suddarth : 2001)


B.   ETIOLOGI

Penyebab pasti dari kolelitiasis / koledokolelitiasis atau batu empedu belum di ketahui. Suatu teori mengatakan bahwa kolesterol dapat menyebabkan superaturasi empedu di kandung empedu. Setelah beberapa lama, empedu yang telah mengalami superaturasi menjadi mengkristal dan memulai membantuk batu. Tipe lain batu empedu adalah batu pigmen. Batu pigmen tersusun oleh kalsium bilirubin, yang terjadi ketika bilirubin bebas berkombinasi dengan kalsium.
                                                                                                                   ( Williams, 2003 )









C.            MANIFESTASI KLINIK

1.      Gangguan pencernaan mual dan muntah
2.      Nyeri perut kanan atas atau kadang – kadanghanya rasa tidak enak di epigastrium
3.      Yang khas yaitu nyeri yang menjalar ke bahu atau sub scapula
4.      Demam dan ikterus
5.      Gejala nyeri perut akan bertambah apabila terdapat lebih banyak lemak
                                                                             ( Mansjoer, Arif , 1999 )


D.    PATOFISIOLOGI

Ada 2 tipe utama batu empedu yaitu, Batu Empedu Pigmen dan Batu Empedu Kolesterol.
Batu pigmen, yaitu kemungkinan akan terbentukmbila pigmen yang tidk konjugasi dalam empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga menjadi batu. Resiko terbantuknya batu ini pada pasien serosis, hemolisis, dan infeksi percabangan biliar. Batu ini tidak dapat di larutkan dan harus di keluarkan dengan jalan operasi.
Batu kolesterol merupakan unsure normal pembentuk empedu yang bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya tergantung pada asam empedu dan lesitin dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam dan peningkatan kolesterol dalam hati sehingga mengendap dan membentuk batu.getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu.
                                                                                ( Brunner & Suddarth : 2001 )






E.     PATHWAYS

































F.      KOMPLIKASI

Komplikasi yang penting ialah terjadinya kolelitiasis akut dan kronik koleodokolitiasis dan pancreatitis yang lebih jarang ialah kolangitis abses hati sirosibilier, empiema, dan ikterus obstrukstif.
                                                                                               (Mansjoer,arif:1999)
 
G.    PENATALAKSANAAN

1.              Penatalaksanaan pendukung dan diet.
Kurang lebih 80% dari pasien – pasien inflamasi akut kandung empedu sembuh dengan istirahat, cairan infus, penghisapan nasogastrik, analgesik dan antibiotik. Intervensi bedah harus di tunda sampai gejala akut mereda dan evaluasi yang lengkap dapat dilaksanakan, kecuali jika kondisi pasien memburuk.
                                                                                                                        ( Smeltzer, 2002 )
Manajemen terapi :
Ø   Diet rendah lemak, rendah kalori, dan tinggi protein
Ø   Pemasangan pipa lambung bila terjadi distensi perut
Ø   Observasi keadaan umum dan pemeriksaan vital sign
Ø   Dipasang infus program cairan elektrolit dan glukosa untuk mengatasi syok.
Ø   Pemberian antibiotik sistemik dan vitamin K (anti koagulopati)


2.              Pengangkatan batu empedu tanpa pmbedahan.
Ø   Pelarutan bahan empedu dengan bahan pelarut (misalnya : monooktanion atau metil tertier butil eter / MTBE) dengan melalui jalur selang atau kateter yang di pasang perkutan langsung kedalam kandung empedu ; melalaui selang atau drain yang di masukkan melalui saluran T Tubeuntuk melarutkan batu yang belum di keluarkan saat pembedahan; melalui endoskop ERCP; atau kateter biliar transnasal.
Ø   Pengangkatan non bedah dengan bberapa metode di gunakan untuk mengeluarkan batu yang belum diangkatpada saat kolisistomi atau yang terjepit dalam duktus koledukus. Prosedur pertama sebuah kateter dan alat di sertai jaring yang terpasang padanya disisipkan lewat saluran T Tube atau lewat fistula yang terbentuk saat insersi T Tube; jaring di gunakan untuk memasang dan menggunakan endoskop ERCP. Setelah endoskop terpasang, alat pemotong dimasukkan lewat endoskop tersebut kedalam ampula Vater dari duktus kolbatuedukus. Alat ini di gunakan untuk memotong serabut – serabut mukosa atau papila dari spingter Oddi sehingga mulut spingter tersebut dapat di perlebar. Perlebaran ini memungkinkan yang terjepit untuk bergerak dengan spontan kedalam duodenum . alat lain yang di lengkapi dengan jaring atau balon kecil pada ujungnya dapat dimasukkan melelui endoskop untuk mengluarkan batu empedu . meskipun komplikasi setelah tindakan ini jarang terjadi, namun kondisi pasien harus diobservasi dengan ketat untuk mengamati terjadinya perdarahan, perforasi, pankreatitis.
Ø   ESWL (Exstrakorporeal Shock – Wve Lithotripsy) prosedur noninvasiv ini menggunakan gelombang kejut berulang (Repeated Shock Wave) yang di arahkan pada batu empedu atau duktus koledukus dengan maksut memecah betu tersebut menjadi beberapa sejumlah fragmen.
                                                                                                                        ( Smeltzer, 2002 )


3.                Penatalaksanaan bedah
Penanganan bedah pada penyakit batu empedu dan kandung empedu di laksanakan untuk mengurangi gejala yang sudah berlangsung lama, untuk mengurangi penyebab kolik bilier dan untuk mengurangi kolasistisi akut. Pembedahan dengan efektif dilaksanakan jika gejala yang di rasakan pasien sudah mereda atau bisa di laksanakan sebagai suatu prosedurdarurat bila mana kondisi pasien mengharuskannya.
Tindakan operatif meliputi :
Ø   Sfingerotomi endoskopik
Ø   PTBD(perkutaneus transhepatik bilirian drainage)
Ø   Pemasangan T Tube saluran empedu endoskop
Ø   Laparatomi kolesistomi pemasangan T Tube


4.          Penatalaksanaan pra operatif
Ø Pemeriksaan sinar X pada kandung empedu
Ø Foto thoraks
Ø Ektrokardiogram
Ø Pemeriksaan faal hati
Ø Vitamin K (diberikan bila kadar protombin pasien rendah)
Ø Terapi komponen darah
Ø Pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemberian larutan glukosa secara intravena bersama suplemen hidrolisat proteinmungkin di berikan untuk membantu kesembuhan luka dan mencegah kerusakan hati.
                     ( Mansjoer, Arif : 1999)




























BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN


a.                 Pengkajian :

1.      Aktivitas dan istirahat:
·         subyektif : kelemahan
·         Obyektif  : kelelahan
2.      Sirkulasi :
·         Obyektif : Takikardia, Diaphoresis
3.      Eliminasi :
·         Subektif : Perubahan pada warna urine dan feces
·         Obyektif : Distensi abdomen, teraba massa di abdomen atas/quadran kanan atas, urine pekat .
4.      Makan / minum (cairan)
Subyektif : Anoreksia, Nausea/vomit.
·         Tidak ada toleransi makanan lunak dan mengandung gas.
·         Regurgitasi ulang, eruption, flatunasi.
·         Rasa seperti terbakar pada epigastrik (heart burn).
·         Ada peristaltik, kembung dan dyspepsia.
Obyektif :
·         Kegemukan.
·         Kehilangan berat badan (kurus).
5.      Nyeri/ Kenyamanan :
Subyektif :
·         Nyeri abdomen menjalar  ke punggung sampai ke bahu.
·         Nyeri apigastrium setelah makan.
·         Nyeri tiba-tiba dan mencapai puncak setelah 30 menit.
Obyektif :
Cenderung teraba lembut pada klelitiasis, teraba otot meregang /kaku hal ini dilakukan pada pemeriksaan RUQ dan menunjukan tanda marfin (+).
6.      Respirasi :
Obyektif : Pernafasan panjang, pernafasan pendek, nafas dangkal, rasa tak nyaman.
7.      Keamanan :
Obyektif : demam menggigil, Jundice, kulit kering dan pruritus , cenderung perdarahan ( defisiensi Vit K ).
8.      Belajar mengajar :
Obyektif : Pada keluarga juga pada kehamilan cenderung mengalami batu kandung empedu. Juga pada riwayat DM dan gangguan / peradangan pada saluran cerna bagian bawah.

Prioritas Perawatan :
a.       Meningkatkan fungsi pernafasan.
b.      Mencegah komplikasi.
c.       Memberi informasi/pengetahuan tentang penyakit, prosedur, prognosa dan pengobatan

Tujuan Asuhan Perawatan :
a.       Ventilasi/oksigenasi yang adekwat.
b.      Mencegah/mengurangi komplikasi.
c.       Mengerti tentang proses penyakit, prosedur pembedahan, prognosis dan pengobatan
                                                                                                                         ( Dongoes : 1999 )





b.                 Diagnosa dan Intervensi.
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan proses inflamasi
 Tujuan : Nyeri berkurang dalam waktu kurang dari 24 jam.
Kriteria Hasil : Klien menyatakan nyeri berkurang, tidak takut melakukan mobilisasi, klien dapat istirahat dengan cukup.
Skala nyeri sedang
Rencana Tindakan :
a.                   Beri penjelasan pada klien tentang sebab dan akibat nyeri.
b.                  Ajarkan teknik relaksasi dan destraksi.
c.                   Bantu klien menentukan posisi yang nyaman bagi klien.

 Rasional :
a.                   Penjelasan yang benar membuat klien mengerti sehingga dapat diajak bekerja sama.
b.                  Dapat mengurangi ketegangan atau mengalihkan perhatian klien agar dapat mengurangi rasa nyeri.
c.                   Penderita sendiri yamg merasakan posisi yang lebih menyenangkan sehingga mengurangi rasa nyeri.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
Tujuan : menunjukkan adanyakeseimbangan cairan seperti output urine adekuat, tekanan darah stabil, membran mukosa mulut lembab, dan turgor kulit baik.
Kriteria Hasil : Cairan tubuh tetap stabil, tekanan darah normal, mukosa mulut lembab, dan kulit elastis.
Rencana Tindakan :
a.                   Berikan makanan dan cairan
b.                  Berikan pengobatan anti diare dan anti muntah
c.                   Lakukan bersihan mulut sebelum dan sesudah makan
              Rasional :
  1. Memenuhi kebutuhan makanan dan minuman
  2. Menurunkan peristaltik pada usus dan muntah
  3. Meningkatkan nafsu makan
3.                  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual / muntah
Tujuan : peningkatan status nutrisi
Kriteria Hasil : Kebutuhan nutrisi tubuh tetep terpenuhi
Rencana tindakan :
a.                   Sajikan makanan yang mudah di cerna, dalam keadaan hangat, tertutup, dan berikan sedikit-sedikit tapi sering.
b.                  Jaga kebersihan mulut pasien
c.                   Bantu pasien makan jika tidak mampu
Rasional :
a.                   Meningkatkan selera makan dan intake makan
b.                  Mulut yang bersih akan meningkatkan nafsu makan
c.                   Mempermudah pasien bila dalam keadaan keterbatasan gerak
4.              Perasaan tidak menyenangkan disebabkan oleh sumber yang tidak jelas / tidak spesifik/
Tujuan : pasien dapat menurunkan kecemasan
Kriteria Hasil : Kondisi pasien tetap stabil dan terkendali kestabilan emosinya
Intervensi tindakan :

a.              Membantu pasien dalam kemampuan koping

b.              Lakukan hubungan lebih akrab dengan pasien sebelum tidur
c.              Perhatikan keluhan fisik selama mengalami kecemasan
Rasional :
a.                   Koping yang positif dapat menurunkan kecemasan
b.                  Menimbulkan kepercayaan dan pasien merasa nyaman
c.                   Cemas menimbulkan kegagalan pemenuhan fisik
                
                                                                                                       ( Tarwoto, Wartonah : 2003 )

Kesimpulan

Dalam bab penutup penulis mengambil beberapa kesimpulan :
Penulis dapat memenuhi tugas dalam perkuliahan
Kolelitiasis / koledokolelitiasi merupakan adanya batu di kandung empedu, atau pada saluran kan Kolelitiasis merupakan suatu keadaan dimana terdapat batu empedu di dalam kandung empedu (vesika felea) dari unsure – unsurepadat yang membentuk cairan empedu yang memiliki ukuran bentuk dan komposisi yang bervariasi.
dung empedu yang pada umumnya komposisi utamanya adalah kolesterol.


Saran
Sebagai perawat profesional diharapkan mampu melakukan tindakan Asuhan Keperawatan yang tepat dan sesuai prisedur. Selaim itu pasien juga diharapkan dapat mengetahui labih lanjut tentang penyakit kolelitiasis dan dapat menghindari makanan yang dapat menyebabkan penyakit. Misalnya engan mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak.





DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 vol 2. Jakarta EGC
Dongoes. M. E. (2000) Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Terjemah oleh Kariasa M. 1999. Jakarat. EGC
Mansjoer Arif, (2001), Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 Jakarta : Media Aescuapius.
Tarwoto, Wartonah. 2003 Kebutuhan Dasar Manusia. Salemba Medika.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar